2007/09/19

Teka Teki


Dalam salah satu episode cerita Mahabarata, ada kisah yang begitu indah dan mendalam dimana Si Sulung Pandawa mendapat pelajaran berharga. Setelah diakali oleh Kurawa (para raksasa jahat), Lima orang pangeran bersaudara (yang disebut Pandawa Lima) diusir dari kerajaan mereka. Dalam pengembaraan di sebuah hutan, mereka sangat kehausan. Saudara yang termuda lalu pergi mencari air dan menemukan sebuah telaga. Di tepi telaga itu berdiri seekor burung bangau putih. Si pemuda berlari ke telaga, tetapi sebelum sempat meminum airnya, burung bangau itu berbicara.

“Berhenti!” teriak si bangau. “Ini telagaku. Kalau kamu menyentuh air ini sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaanku, kamu akan mati.”

Pemuda itu nekat mengabaikan peringatan si bangau. Dia membungkuk untuk minum dan jatuh mati di tepi air.

Beberapa saat kemudian seorang saudaranya datang untuk mencarinya. Dia juga sudah merasa tersiksa oleh rasa hausnya, dan membungkuk di tepi telaga untuk meminum airnya. Tepat pada saat dia akan memuaskan dahaganya, burung bangau putih itu berbicara kepadanya: “Berhenti! Kalau kamu menyentuh air ini sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaanku, kamu akan mati.” Anehnya, meskipun pangeran muda itu sudah melihat saudaranya terkapar tak bernyawa lagi di dekatnya, rasa hausnya membuat dia tak dapat menahan diri. Dia akhirnya jatuh dan mati di samping saudaranya.

Satu demi satu, dua saudara yang lainnya menemui ajal dengan cara yang sama. Hanya yang tertua, yang berduka cita di tempat saudara-saudaranya terbaring, yang bersedia mengesampingkan rasa hausnya, dan menjawab teka-teki si bangau yang mirip dengan teka-teki sphinx di Mesir. Salah satu pertanyaan yang diajukan mempunyai arti yang sangat dalam:”Apakah yang paling mengherankan dalam hidup ini?”

Pangeran itu menjawab, “Meskipun setiap hari melihat orang lain mati, ada banyak orang yang tidak pernah berpikir bahwa dirinya sendiri akan mati.”

Akhirnya bangau itu menampakkan wujud aslinya, yang tidak lain adalah Dewa Kebenaran yang sedang menyamar, dan dia menghidupkan saudara-saudara si pangeran.

No comments: