2007/09/14

Naradha Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas



Judul : Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas
Oleh : Anand Krishna Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama Cetakan I : Agustus 2001 Foto Sampul : Maria Dharmaningsih Tebal : 337 Halaman


Dalam dunia wayang, NARADA dikenal sebagai Dewa. Brahma Rishi ini sebenarnya adalah tokoh historis. Sepeninggal ibunya secara tiba-tiba, pemuda ini mulai mengembara, untuk menguasai segala cabang pengetahuan.
Dengan penguasaan pengetahuan yang ada pada zamannya, hati pemuda ini sama sekali tak terpuaskan, sampai akhirnya dia bertemu dengan Sanatkumara, seorang pujangga dari Kalpa yang sudah berlalu.
Olehnya Narada diingatkan bahwa hanya ada satu yang akan memuaskan hatinya,...yaitu "Yang Hanya Satu Ada-Nya,....Kasih, Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas."
Karena itu, mulailah Narada menyelami Cinta dan Bhakti Sutra adalah mahakarya hasil penyelamannya.
Dengan komentar Anand Krishna, kini karya klasik ini terbuka bagi kita. Bagaikan cermin, kita bisa menatapnya untuk menemukan diri, dan DIA yang bersemayam Di Dalam Diri. (Sinopsis)

Narada Bhakti Sutra:
Menyanyikan Cinta Ilahi

"Bagaimana menyadari Kasih dalam diri?" bertanya Narada pada Sanatkumara. "Bila sulit menyadari-Nya di dalam diri, anggaplah Dia berada di luar diri," jawab Sang Guru yang bijaksana.

Narada memahami maksud Sanatkumara. Sayangnya, sebagian manusia tidak. Maka, lahirlah konsep-konsep buatan manusia tentang Tuhan, Sesuatu yang Maha Ada, di luar diri yang disalahpahami. Manusia yang belum bisa menyadari kasih di dalam diri, melahirkan konsep untuk "dikasihi" dan berhenti pada tahap itu. Mirip dengan pemahaman filsafat barat tentang munculnya "alienasi", atau keterasingan manusia dari dirinya yang sejati. Manusia memproyeksikan Yang Maha Ada sebagai sesuatu di luar dirinya, tapi, lama-kelamaan, manusia diperbudak oleh konsep buatannya sendiri. Tuhan yang dikenal manusia menjadi Tuhan yang "pemarah" dan "penghukum". Celakanya, berbagai kelompok manusia melembagakan pemahaman ini, yang kemudian menjadi fanatisme buta yang saling menghancurkan. Masing-masing mengatasnamakan Tuhan yang "pemarah" untuk menindas yang lain. Tak heran jika terdengar ada orang-orang yang saling meledakkan gereja, vihara, pura atau masjid.

Manusia lupa bahwa konsep-konsep tentang Tuhan itu hanyalah alat bantu. Seperti kata Anand Krishna dalam buku yang membahas karya pujangga asal India, Narada, berjudul Narada Bhakti Sutra, "menganggap Tuhan di luar diri ibarat bercermin diri. Cermin bisa menjadi alat bantu. Lewat 'bayangan diri' yang terlihat, mata bisa menyadari 'keberadaan diri." Konsep itu bisa jadi alat bantu "asal kita tidak berhenti pada tahapan itu." Cinta Kasih Ilahi mesti diselami.

Narada Bhakti Sutra adalah sebuah karya klasik Narada, yang dipercaya berasal dari kalpa terdahulu (siklus kehidupan semesta sebelumnya), yang tema sentralnya adalah Cinta Kasih atau Bhakti, Cinta yang Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Lepas dari siapa sebenarnya Narada, yang lebih menarik adalah tema yang dibahas dalam kitab ini. Di sini, Cinta Kasih tak sekedar dibahas sebagai utopia yang tak terjangkau oleh manusia. Lebih dari itu, Narada mengajak untuk masuk menceburkan diri dalam Cinta, bersatu dengan Kasih Ilahi. (Peresensi: Wandy Nicodemus, bekerja di The Asia Foundation, Jakarta)

No comments: