2007/09/19

Musafirkhana


Ada sebuah cerita yang sangat menarik sekali………
Cerita tentang Sultan Ibrahim dari
Balkh.
Pada suatu hari seorang yang tidak dikenal mendatangi istananya dan tanpa babibu menggelar karpet dan merebahkan diri di atasnya.
Dengan marah,. Sang Sultan bertanya: “Kau piker kau berada di mana?”
Orang tak dikenal itu menjawab dengan santai” “Ku pikir ini musafirkhana, tempat persinggahan.”
“Apa maksudmu? Istana ini kau pikir sebuah musafirkhana ?” sang Sultan tambah berang.
Masih tetap santai, orang tak dikenal itu manjawab, “Jangan marah Sultan, tapi tolong jawab pertanyaan saya… Sebelum Baginda, siapa yang menempati istana ini?”
Sang Sultan menjawab” “Ayahku! Beliau yang tinggal di sini!”
“Dan di mana Ayah anda saat ini?” Tanya orang tak dikenal itu.
“Sudah meninggal!”
“Dan sebelum ayah anda, siapa yang tinggal di sini?”
Sultan menjawab: “Kakekku. Beliau yang menempati istana ini sebelum Ayah.”
“Di mana kakek baginda saat ini?”
Sang Sultan merasa jenuh dgn keusilan orang tak dikenal itu, tetapi dilayaninya. “Juga telah meninggal!”
“Dan sebelum Beliau, siapa yg tinggal di sini?”
“Buyutku.”
“Dan di mana beliau saat ini?”
“Tentu saja sudah meninggal!”
“Bila demikian”, kata orang tak dikenal itu, “tempat ini jelas tempat persinggahan sementara. Banyak yang telah dating, bersinggah dan meninggalkan tempat ini itk melanjutkan perjalanan mereka. Sultan, pada suatu ketika Baginda pun harus meninggalkan tempat ini dan melanjutkan perjalanan Baginda.”
Setelah mengucapkan kalimat terakhir, orang tak dikenal itu lenyap tanpa bekas, tetapi kata2 yg diucapkannya telah membekas dan menyadarkan Sang Sultan: “Ini bukan istanaku. Betul, tempat ini memang musafirkhana. Dunia ini ibarat musafirkhana. Sekian banyak yang lahir dan mati setiap hari. Dunia ini bukanlah rumahku. Dan, bila dunia ini bukan rumahku, di manakah rumahku? Apa tujuan persinggahanku ini?”
Sejak itu Sang Sultan tdk pernah bebas dr pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Dia tdk bias lagi tidur nyenyak. Di tengah malam dia akan terjaga dan bertanya pada diri sendiri, “Apa tujuan hidupku? Apa arti persinggahanku ini? Di mana pula rumah asalaku?”
Pada suatu hari ia mendengar suara: “Bila kau ingin jawaban atas pertanyaan2mu, bebaskan dirimu, lepaskan!”
Sang Sultan memahami maksud suara itu. Dia meninggalkan tahta dan istananya.

No comments: